PARADISA
WELCOME TO PARADISA NETWORK
Kami merupakan Media Saring berbagai ilmu yang tentunya bermanfaat bagi kita semua
Laman
Senin, 24 Agustus 2009
Kamis, 20 Agustus 2009
Minggu, 16 Agustus 2009
Jumat, 10 Juli 2009
Pernak-Pernik dari Kain Flanel
Sabtu, 25 April 2009
Mentari Collection
-Pakaian kantor
-Baju sekolah : SD, SMP, n SMA
-Baju anak-anak
-Baju Muslim
-Baju untuk wanita : atasan, kaos, jins, rok, dll
-Baju untuk Cowok: Kemeja, kaos, jins, dll
-Sepatu dan Sandal
-dll
Juga mengadakan arisan dan menjual makanan (snack, bolu, dodol, dll) dan minuman (fanta, sprite, sarang burung walet, dll) untuk hari raya idul fitri, idul adha, natal, imlek, dan ruwahan
Selasa, 24 Februari 2009
Penyakit Bercak Coklat pada Padi
Nama umum : Brown spot
Nama Patogen : Drechslera oryzae (B. de Haan) Subram. et Jain
Bagian Yang diserang : semai, daun dan buah
Stadia muncul : Biji, persemaian, dan tanaman dewasa
Arti Penting :
Bercak coklat (brown spot) umumnya terdapat pada pertanaman padi di
Deskripsi :
Jamur yang menyebabkan bercak coklat adalah Drechslera oryzae (B. de Haan) Subram. et Jain. Namun pada waktu ini jamur maih lebih dikenal dengan nama lamanya yaitu Helminthosporium oryzae B. de Haan. Di daerah bneriklim sedang jamur mempunyai stadia sempurna, membentuk peritesium, dan dideterminasi sebagai Ophiobolus miyabeanus Ito et Kurabay. Atau Cochliobolus miyabeanus (Ito et Kurabay) Dickson (Semangun, 2004).
D. oryzae membentuk miselium berwarna coklat kelabu sampai tua di dalam dan di luar jaringan tanaman sakit, dan juda di dalam biakan murni. Konidiofor berwarna coklat muda sampai coklat kehijauan, makinh keujung warna makin muda, mempunyai panjang dan lebar yang bervariasi, tergantung lingkungannya. Konidiofor mempunyai bengkokan seperti lutut yang khas, yang merupakan titik melakatnya konidium. Konidium yang paling bawah adalah paling tua. Konidium berwarna coklat, berbentuk kumparan, kebanyakan agak bengkok, berdinding tebal, bersekat palsu 5-10, dengan ukuran yang bervariasi, tergantung faktor lingkungan dan ras fisiolis jamur, dengan rata-rata 104x15.5 μm. Konidium mempunyai hilum yang khas, kecil, sering sedikit menonjol, berpapil, berkecambah dari kedua sel ujungnya yang mempunyai dinding sel palin tipis dibandingkan dengan sel-sel yang lebih ke tengah ( Holliday, 1980; Singh, 1969; Semangun, 2004).
Pada biakan murni jamur membentuk peritesium bulat, hitam, dengan ostiol yang berbentuk paruh. Badan peritesium berukuran 463-763 x 368-777 μm, sedang ukuran paruh 95-190 x 55-95 μm. Askus berbentuk tabung atau panjang, berbentuk kumparan, sedikit melengkung, 142-235 x 21-36 μm, kebanyakan berisi 4-6 askospora. Askospora seperti benang, bersekat 9-12, 250-469 x 6-9 μm, dan membentuk regum (spiral) yang rapat didalam askus (Semangun, 2004).
Daur Penyakit :
D. oryzae dapat mempertahankan diri sebagai miselium atau konidium dalam biji-biji. Jamur juga terdapat didalam biji-biji yang tampak sehat. Di dalam biji jaumur paling sedikit dapar bertahan selama 4 tahun. Segaja penyakit yang pertama tampak sebagi bercak-bercak atau garis-garis coklat kekuningan pucat pada koleoptil kecambah. D. oryzae juga dapat bertahan dalam jerami yang disimpan di kampung-kampung, tetapi mungkin dari sini jamur sukar untuk mengadakan infeksi pada tanaman padi di sawah atau tegalan (Semangun, 2004).
Konidium jamur dapat terpencarkan oleh angin, tetapi mungkin jarak yang di tempuhnya tidak jauh. Bahkan konidium dapat tertangkap gelas benda lebih kurang 6 meter dari pertanaman yang sakit. Pada gelas benda yang diletakkan 0,75 m, di atas pertanaman sakit hanya dapat tertangkap sedikit konidium ( Hadisutrisno dan Triharso, 1972 cit Semangun, 2004).
Konidium tumbuh dengan membentuk buluh kecambah dari ujung-ujung sel basal dan apikal yang dindingnya paling tipis. Kadang-kadang pembuluh juga tumbuh dari samping konidium. Dalam waktu beberapa jam ujung pembuluh kecambah membengkak, terbentuklah apresorium yang berlekak-lekak atau bercabang-cabang, dan jamur mengadakan penetrasi dengan menembus dinding epidermis, atau sel-sel kipas. Kalau infeksi terjadi melalui mulut kulit, apresorium tidak terbentuk. Pda umumnya infeksi terjadi sekitar 4 jam setelah perkecambahan konidium. Gejala penyakit yang pertama terlihat sekitar 24 jam setelah infeksi. Jamur juga dapat bertahan cukup lama didalam tanah. Suhu optimun untuk perkecambahan konidium adalah 25-30ºC. suhu mainimum dan maksimum masing-masing adalah 2 dan 41ºC. pembentukan konidium terjadi pdaa suhu 5 samapi 35-38ºC( Semangun, 2004).
Gejala Serangan :
Parasit yang terbawa oleh biji dapat menyerang biji-biji yang akan dan yang sedang tumbuh. Semai yang terserang busuk pada koleoptil, batangn, dan akar-akarnya, dan dapat menyebabkan matinya semai ini. Pada daun tanaman yuang sudah besar terjaid bercak-bercak coklat memanjang. Bercak-bercak kecil berwarna coklat tua atau coklat ungu. Bercak yang besar tepinya berwarna coklat tua, tetapi pada bagian tengahnya dapat berwarna kuning pucat, putih kotor, coklat atau kelabu. Kadang-kadang bercak mempunyai halo kekuningan. Daun yang sakit keras dapat menjadi kering. Jika keadaan membantu, batang, dan tangkai bulir dapat terjangkit. Infeksi ini dapat menyebabkan patahnya bagian-bagian tadi dan menjadi keriputnya biji-biji ( Semangun, 2004).
Tanaman yang sakit keras mungkin tidak dapat membentuk malai, atau malai tidak keluar dari upih daun. Serangan yang ringan pada biji-biji dapat menyebabbkan terjadinya bercak-bercak berwarna coklat kecil-kecil. Pada keadaan ini biji tetap berisi dan dapat berkecambah. Biji yang terserang berat berwarna coklat seluruhnya. Dalam keadaan yang sesuia, biji yang sakit diliputi oleh beludu hitam, yang terdiri dari konidiofor dan konidium jamur. Pada umumnya jamur hanya menyerang sebagian dari biji-biji pada malai ( Semangun, 2004).
Teknik Pengendalian Non Kimiawi ( Semangun, 2004):
v Meningkatkan cara bertanamna deangan tanam serentak, air ang cukup, pupuk yang seimbang, dan penanaman yang tepat.
v Sanitasi dan pergiliran tanaman.
v Perawatan biji
v Penanaman varietas tahan.
Pengendalian kimiawi
v Pertisida ( Semangun, 2004):
| Nama dagang | Bahan Aktif |
| Hinosan 50 EC | Edifenfos |
| Dithane M-45 | Mankozeb |
| Antracol 70 WP | Propineb |
| Delsene MX 200 | Karbendazim dan mankozeb |
| Daconil 75 WP | Klototalonil |
Daftar Pustaka
Semangun, Haryono. 2004. Penyakit-Penyakit Tanaman Pangan Indonesia. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta
Rabu, 11 Februari 2009
Antara Tembakau, Temanggung, dan Semarang?????Kendal
Tapi kebetulan temen ku, anak Bangka yang kuliah di Bandung pengen ke Semarang, pengen tahu Lawang Sewu, akhirnya kuputuskan untuk merubah jalur kearah Temanggung baru ke Semarang. Kami berangkat berempat menggunakan sepeda motor. Modal nekat dan petunjuk jalan aja. Soalnya kami benar-benar nggak mengerti jalan.
Setelah naik motor sekitar 2-3 jam, kita sampai di Temanggung . sampai disana aku pengen nangis karena tembakau yang aku cari nggak ada. Kata petani disana, sekarang bukan musim tanamnya tembakau. Petani lebih memilih menanam padi. Mumet……………………………….Padahal kata mas yang kerja bareng di laboratorium ma aku bilang katanya di Temanggung masih ada sedikit yang nanam. Tapi tetep aja nggak aku temuin
Karena udah nggak ketemu, kita langsung berangkat ke Semarang. Ya berhubung nggak mengerti sama sekali jalan, kami Cuma mengandalkan petunjuk jalan aja. Kita jalan kea rah Weleri. Sambil Tanya ma orang-orang di pinggir arah jalan ke Semarang. Trus nggak taunya kami sampai ke Candiroto. Aku sedikit ngerti tempat ini, karena dulu aku pernah sekali daerah ini. Dulu waktu praktikum Pembiakan Massal Serangga kita pernah ke Balai Pengembangan Ulat Sutra di candiroto. Tapi aku nggak begitu hapal jalan karena waktu tu di bus, aku lebih banyak tidur. Maklum….aku mabuk perjalanan kalau naik bus. Terutama perjalanan yang membutuhkan waktu lebih dari satu jam.
Trus mau tau kita nyasar ke mana????kita nyasar di Kendal. Kok bisa??????seingatku dari Balai Pengembangan Ulat Sutra itu, jalannya lurus aja.nggak belok-belok sampai ke jalan yang gede. Tapi karena kami mengikuti petunjuk arah, kami mengambil arah ke curug sewu kalau nggak salah, aku rada lupa sih. Nggak taunya itu jalan alternatif gitu. Jalannya sepi banget. Kiri kanan cuma ada pohon dan pohon. Lewat lading jagung dan desa kecil gitu. Jalannya bener-bener sepi. Menakutkan tapi juga keren lihat pemandangannya yang indah.
Jalan ke Semarang benar-benar kerasa jauh banget. Setelah penantian begitu lama, akhirnya kita sampai di kota kecil bernama Boja dan kami memutuskan makan siang disana. Perjalanan yang jauh benar-benar membuat perut keroncongan. Kami sampai disana sekitar jam 2an. Setelah perut terisi, kami melanjutkan perjalanan ke Semarang setelah bertanya ke pada pemilik rumah makan.
Perjalanan dari Boja terasa lebih menyenangkan daripada sebelumnya karena kami sudah dijalan yang cukup ramai, tidak melewati jalur alternatif yang sepi. Setelah penantian yang cukup panjang, akhirnya kami sampai di Semarang. Ini pertama kalinya aku ke Semarang. Di sini aku baru tau kalau di Semarang lumayan asyik. Banyak bukit-bukit yang sangat dekat dengan pantai. Jadi bisa melihat pantai dari rumah-rumah diatas bukit. Benar-benar kombinasi yang sangat cantik. Tampaknya aku bakal menyukai tempat ini. Tapi yang aku kurang suka yakni Semarang merupakan kota besar seperti Jakarta, terlalu banyak kendaraan. Aku kurang suka dengan kota besar. Terlalu banyak kendaraan sehingga kurasa terasa tidak terlalu nyaman. Tidak seperti Jogja yang sangat nyaman dan ramah menurut ku.
Selanjutnya, kami langsung ke target yakni Lawang Sewu. Ternyata lokasi Lawang Sewu benar-benar strategis. Aku sangat kagum dengan design Lawang sewu. Sangat menakjubkan. Mengingatkan ku akan rumah kontrakan orang tuaku yang dulu (sebelum pindah ke rumah yang dibangun orang tuaku dari hasil jerih payah mereka yang sekarang kami tempati)
Gambar. Tugu Pemuda (kalau nggak salah) Semarang diambil dari Lawang Sewu
Rasa lelah yang menghampiri kami hilang begitu saja setelah masuk dan melihar-lihat di Lawang Sewu. Selain jalan-jalan didalam gedung, kami juga mencoba memasuki ruang bawah tanah yang menyimpan banyak cerita. Pada waktu kependudukan Belanda, tempat ini dijadikan tempat panampungan air hujan yang kemudian air hujannya dimanfaatkan sebagai pendingin ruangan. Tapi semenjak kedatangan pemerintah Jepang, tempat ini beralih fungsi menjadi penjara bawah tanah. Di dalamnya terdapat penjara Jongkok dan berdiri. Di penjara jongkok dan berdiri, para tawanan yang merupakan pejuang Indonesia yang gagah berani dimasukkan berdesakan di dalam penjara yang kecil tersebut. Dan mereka juga tergenang air. Sungguh menyedihkan. Tidak ada satu pun yang bisa selamat dari penjara itu. Mereka tidak diberi makanan ataupun minuman. Orang-orang yang mampu bertahan di dalam penjara jongkok dan berdiri selama waktu tertentu akan dihukum mati dengan cara dipenggal. Jadi, orang-orang yang masuk di dalam penjara bawah tanah, tidak ada satupun yang keluar dalam keadaan hidup. Mayat-mayat mereka dibuang di sungai di belakang Lawang Sewu. Hal ini bertujuan untuk menghilangkan jejak karena aliran sungai ini langsung menuju laut sehingga mayat-mayat tersebut tidak akan pernah diketemukan. Saaat ini sungai tersebut telah mendangkal.
Perjalanan hati itu sangat melelahkan. Setelah makan makan malam, barulah kami kembali ke Jogja. Selama perjalanan, hujan terus-menerus turun. Rasa lelah terhilangkan dengan kekaguman akan Lawang Sewu. Ini menjadi kenangan tersendiri bagiku. Walaupun tidak berhasil mendapatkan tanaman tembakau, aku tetap senang melakukan perjalanan ini. Suatu saat nanti, aku akan kembali ke Semarang untuk mengenal kota itu lebih dekat lagi
Kamis, 22 Januari 2009
Strawberry latent ring spot nepovirus (SLRSV)
Berdasarklan SK Mentan No. 38 tahun 2006 yang diterbitkan tanggal 26 Januari 2006, tanaman Lilium sp. asal Belanda merupakan salah satu media pembawa Strawberry latent ring spot nepovirus (SLRSV). Di Indonesia, Strawberry latent ring spot nepovirus (SLRSV) merupakan virus Kategori A1 karena belum terdapat di Indonesia. Strawberry latent ring spot nepovirus (SLRSV) pertama kali dilaporkan pada tahun 1964 pada tanaman Fragaria ananassa ( Strawberry) di Scotland ( Lister, 1964 cit Anonim, 1999) dan menyerang banyak sekali tanaman. Strawberry latent ring spot nepovirus (SLRSV) sudah menyebar di berbagai negara di Eropa dan salah satunya adalah Belanda. Partikel virus SLRSV berbentuk isometrik dan berdiameter 34nm. Virus mengandung ssRNA. SLRSV dapat ditularkan secara mekanik. Selain itu, SLRSV dapat ditularkan melalui vektor yaitu nematoda Xiphinema diversicaudatum.
Strawberry latent ring spot nepovirus (SLRSV) diketahui memiliki kirasan inang yang luas. Schmelzer (1969) cit Anonim (1999) melaporkan bahwa SLRSV menyerang 126 spesies tanaman dari 27 famili tanaman. Gejala yang ditimbulkan pada tiap tanaman berbeda-beda dan menimbulkan gejala sistemik. Pada tanaman anggur hybrid rootstock 106/8, SLRSV menimbulkan gejala bercak-bercak klorotik, tidak simetris, dan malformasi pada daun (Credi et al., 1981 cit Anonim 1999). Pada beberapa kultivar di Itali(Marte et al., 1986 cit Anonim 1999) dan Portugal (Henriques et al., 1992 cit Anonim 1999), SLRSV menyebabkan malformasi pada daun dan buah, sedangkan pada kultivar yang lain menimbulkan gejala sistemik. Sedangkan pada Robinia pseudoacacia menyebabkan gejala mosaik.
Serangan Strawberry latent ring spot nepovirus (SLRSV) dapat menyebabkan penurunan kualitas dan kuantitas tanaman. Penurunan tersebut akan mempengaruhi nilai jual dari hasil tanaman. Di Indonesia, belum terdapat SLRSV sehingga perlu dilakukan tindakan-tindakan untuk mencegah masuknya SLRSV ke Indonesia. Hal ini dikarenakan, jika SLSRV masuk ke Indonesia maka akan mengancam pertanian Indonesia. Tindakan yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan tindakan karantina tehadap semua pemasukan dari luar negeri terhadap media pembawa SLRSV.
Daftar Pustaka
CAB International, 1999. Crop Protection Compendium. Wallingford, UK: CAB International.
Bentuk dan Jenis Dokumen Tindakan Karantina Tumbuhan
Bentuk dan jenis dokumen tindakan karantina tumbuhan menurut Keputusan Menteri Pertanian No.103/Kpts/HK.060/m/2/2004 meliputi :
1. Sertifikat Pelepasan Karantina Tumbuhan Luar Negeri (KT-1)
2. Sertifikat Pelepasan Karantina Tumbuhan Domestik (Sertifikat Pelepasan Karantina Tumbuhan Antar area) (KT-2)
3. Phytosanitary Certificate (KT-3)
4. Phytosanitary Certificate for Re-ekspor (KT-4)
5. Sertifikat Karantina Tumbuhan Domestik ( Sertifikat Kesehatan Tumbuhan Antar Area) (KT-5)
6. Sertifikat Karantina Tumbuhan Domestik ( Sertifikat Kesehatan Tumbuhan Transit Antar Area) (KT-6)
7. Fumigation Certifikate (KT-7)
8. Sertifikat fumigasi (KT-8)
9. Certificate of Desinfestation/Disinfection (KT-9)
10. Sertifikat Perlakuan (KT-10)
11. Laporan Pemasukan/Pengeluaran/Transit Media Pembawa (KT-11)
12. Surat Tugas (KT-12)
13. Laporan Hasil Pemeriksaan Administratif (KT-13)
14. Surat Pemberitahuan Tidak Diperlukan Tindakan Karantina (KT-14)
15. Surat Pemberitahuan Untuk Melengkapi Dokumen Persyaratan Karantina Tumbuhan (KT-15)
16. Surat Pemberitahuan Pelaksanaan Tindakan Pemeriksaan Fisik/Kesehatan/ Pengasingan dan Pengamatan (KT-16)
17. Surat Keterangan Hasil Pemeriksaaan (Laporan Hasil Pelaksanaan/ Pengawasan Pemeriksaan Fisik/Kesehatan Media Pembawa (KT-17)
18. Laporan Hasil Pemeriksaan/ Pengawasan Pengasingan dan Pengamatan Media Pembawa (KT-18)
19. Surat Keterangan Masuk Karantina (Surat Persetujuan Pelaksanaan Tindakan Karantina Tumbuhan di Luar Tempat Pemasukan/Pengeluaran) (KT-19)
20. Laporan Hasil Pelaksanaan Pengawalan Media Pembawa (KT-20)
21. Berita Utama Serah Terima Media Pembawa (KT-21)
22. Surat Pemberitahuan Pelaksanaan Tindakan Perlakuan (KT-22)
23. Laporan Hasil Pelaksanaan/ Pengawasan Perlakuan Media Pembawa (KT-23)
24. Surat Penahanan (KT-24)
25. Laporan Hasil Pelaksanaan Penahanan Media Pembawa (KT-25)
26. Surat Penolakan (KT-26)
27. Berita Acara Penolakan (KT-27)
28. Surat Perintah Pemusnahan (KT-28)
29. Berita Acara Pemusnahan (KT-29)
30. Laporan Kedatangan/ Transit Alat Angkut (KT-30)
31. Surat Keterangan Transit Media Pembawa (KT-31)
32. Surat Pemberitahuan Tindakan Karantina Tumbuhan Terhadap Alat Angkut (KT-32)
33. Laporan Pemeriksaan Kapal ( Laporan Hasil Pemeriksaan Alat Angku/ Carrier (Vessel/Aircraft) Inspection Report (KT-33)
34. Surat Pemberitahuan Pelaksanaan Tindakan Karantina Tumbuhan Terhadap Media Pembawa Di Atas Alat Angkut (KT-34)
35. Surat Pemberitahuan Tidak Diperbolehkan Membongkar Muatan Alat Angkut (KT-35)
36. Surat Izin Membongkar Muatan Alat Angkut (KT-36)
37. Laporan Hasil Pengawasan Bongkar Muat Media Pembawa (KT-37)
38. Laporan Hasil Pelaksanaan/Pengawasan Pelaksanaan Perlakuan Terhadap Alat Angkut (KT-38)
39. Stiker (KT-39)
40. Segel Karantina Tumbuhan (KT-40)
41. Notification of Non Compliance (KT-41)
42. Kuitansi (KT-42)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)