PARADISA

WELCOME TO PARADISA NETWORK

Kami merupakan Media Saring berbagai ilmu yang tentunya bermanfaat bagi kita semua


Laman

Rabu, 11 Februari 2009

Antara Tembakau, Temanggung, dan Semarang?????Kendal






Ektraksi ds RNA q gagal lagi. Mumet……………………..tembakau sakitnya habis. Terpaksa nyari lagi. Tapi yang menjadi permasalahan, sekarang bukan musim tanamnya tembakau. Aku dah muter-muter ke Ketep, Muntilan, dan Klaten tapi sudah tidak ada lagi. Padahal sebelum musim hujan, tempat-tempat tersebut merupakan sentra tanaman tembakau yang dekat dengan jogja. Berhubung sangat Urgen, akhirnya kuputuskan untuk survey tembakau ke jalur arah ke Solo.

Tapi kebetulan temen ku, anak Bangka yang kuliah di Bandung pengen ke Semarang, pengen tahu Lawang Sewu, akhirnya kuputuskan untuk merubah jalur kearah Temanggung baru ke Semarang. Kami berangkat berempat menggunakan sepeda motor. Modal nekat dan petunjuk jalan aja. Soalnya kami benar-benar nggak mengerti jalan.

Setelah naik motor sekitar 2-3 jam, kita sampai di Temanggung . sampai disana aku pengen nangis karena tembakau yang aku cari nggak ada. Kata petani disana, sekarang bukan musim tanamnya tembakau. Petani lebih memilih menanam padi. Mumet……………………………….Padahal kata mas yang kerja bareng di laboratorium ma aku bilang katanya di Temanggung masih ada sedikit yang nanam. Tapi tetep aja nggak aku temuin

Karena udah nggak ketemu, kita langsung berangkat ke Semarang. Ya berhubung nggak mengerti sama sekali jalan, kami Cuma mengandalkan petunjuk jalan aja. Kita jalan kea rah Weleri. Sambil Tanya ma orang-orang di pinggir arah jalan ke Semarang. Trus nggak taunya kami sampai ke Candiroto. Aku sedikit ngerti tempat ini, karena dulu aku pernah sekali daerah ini. Dulu waktu praktikum Pembiakan Massal Serangga kita pernah ke Balai Pengembangan Ulat Sutra di candiroto. Tapi aku nggak begitu hapal jalan karena waktu tu di bus, aku lebih banyak tidur. Maklum….aku mabuk perjalanan kalau naik bus. Terutama perjalanan yang membutuhkan waktu lebih dari satu jam.

Trus mau tau kita nyasar ke mana????kita nyasar di Kendal. Kok bisa??????seingatku dari Balai Pengembangan Ulat Sutra itu, jalannya lurus aja.nggak belok-belok sampai ke jalan yang gede. Tapi karena kami mengikuti petunjuk arah, kami mengambil arah ke curug sewu kalau nggak salah, aku rada lupa sih. Nggak taunya itu jalan alternatif gitu. Jalannya sepi banget. Kiri kanan cuma ada pohon dan pohon. Lewat lading jagung dan desa kecil gitu. Jalannya bener-bener sepi. Menakutkan tapi juga keren lihat pemandangannya yang indah.

Jalan ke Semarang benar-benar kerasa jauh banget. Setelah penantian begitu lama, akhirnya kita sampai di kota kecil bernama Boja dan kami memutuskan makan siang disana. Perjalanan yang jauh benar-benar membuat perut keroncongan. Kami sampai disana sekitar jam 2an. Setelah perut terisi, kami melanjutkan perjalanan ke Semarang setelah bertanya ke pada pemilik rumah makan.

Perjalanan dari Boja terasa lebih menyenangkan daripada sebelumnya karena kami sudah dijalan yang cukup ramai, tidak melewati jalur alternatif yang sepi. Setelah penantian yang cukup panjang, akhirnya kami sampai di Semarang. Ini pertama kalinya aku ke Semarang. Di sini aku baru tau kalau di Semarang lumayan asyik. Banyak bukit-bukit yang sangat dekat dengan pantai. Jadi bisa melihat pantai dari rumah-rumah diatas bukit. Benar-benar kombinasi yang sangat cantik. Tampaknya aku bakal menyukai tempat ini. Tapi yang aku kurang suka yakni Semarang merupakan kota besar seperti Jakarta, terlalu banyak kendaraan. Aku kurang suka dengan kota besar. Terlalu banyak kendaraan sehingga kurasa terasa tidak terlalu nyaman. Tidak seperti Jogja yang sangat nyaman dan ramah menurut ku.

Selanjutnya, kami langsung ke target yakni Lawang Sewu. Ternyata lokasi Lawang Sewu benar-benar strategis. Aku sangat kagum dengan design Lawang sewu. Sangat menakjubkan. Mengingatkan ku akan rumah kontrakan orang tuaku yang dulu (sebelum pindah ke rumah yang dibangun orang tuaku dari hasil jerih payah mereka yang sekarang kami tempati)





Gambar. Tugu Pemuda (kalau nggak salah) Semarang diambil dari Lawang Sewu


Gambar. Lawang Sewu Semarang

Rasa lelah yang menghampiri kami hilang begitu saja setelah masuk dan melihar-lihat di Lawang Sewu. Selain jalan-jalan didalam gedung, kami juga mencoba memasuki ruang bawah tanah yang menyimpan banyak cerita. Pada waktu kependudukan Belanda, tempat ini dijadikan tempat panampungan air hujan yang kemudian air hujannya dimanfaatkan sebagai pendingin ruangan. Tapi semenjak kedatangan pemerintah Jepang, tempat ini beralih fungsi menjadi penjara bawah tanah. Di dalamnya terdapat penjara Jongkok dan berdiri. Di penjara jongkok dan berdiri, para tawanan yang merupakan pejuang Indonesia yang gagah berani dimasukkan berdesakan di dalam penjara yang kecil tersebut. Dan mereka juga tergenang air. Sungguh menyedihkan. Tidak ada satu pun yang bisa selamat dari penjara itu. Mereka tidak diberi makanan ataupun minuman. Orang-orang yang mampu bertahan di dalam penjara jongkok dan berdiri selama waktu tertentu akan dihukum mati dengan cara dipenggal. Jadi, orang-orang yang masuk di dalam penjara bawah tanah, tidak ada satupun yang keluar dalam keadaan hidup. Mayat-mayat mereka dibuang di sungai di belakang Lawang Sewu. Hal ini bertujuan untuk menghilangkan jejak karena aliran sungai ini langsung menuju laut sehingga mayat-mayat tersebut tidak akan pernah diketemukan. Saaat ini sungai tersebut telah mendangkal.

Perjalanan hati itu sangat melelahkan. Setelah makan makan malam, barulah kami kembali ke Jogja. Selama perjalanan, hujan terus-menerus turun. Rasa lelah terhilangkan dengan kekaguman akan Lawang Sewu. Ini menjadi kenangan tersendiri bagiku. Walaupun tidak berhasil mendapatkan tanaman tembakau, aku tetap senang melakukan perjalanan ini. Suatu saat nanti, aku akan kembali ke Semarang untuk mengenal kota itu lebih dekat lagi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar