Nama umum : Brown spot
Nama Patogen : Drechslera oryzae (B. de Haan) Subram. et Jain
Bagian Yang diserang : semai, daun dan buah
Stadia muncul : Biji, persemaian, dan tanaman dewasa
Arti Penting :
Bercak coklat (brown spot) umumnya terdapat pada pertanaman padi di
Deskripsi :
Jamur yang menyebabkan bercak coklat adalah Drechslera oryzae (B. de Haan) Subram. et Jain. Namun pada waktu ini jamur maih lebih dikenal dengan nama lamanya yaitu Helminthosporium oryzae B. de Haan. Di daerah bneriklim sedang jamur mempunyai stadia sempurna, membentuk peritesium, dan dideterminasi sebagai Ophiobolus miyabeanus Ito et Kurabay. Atau Cochliobolus miyabeanus (Ito et Kurabay) Dickson (Semangun, 2004).
D. oryzae membentuk miselium berwarna coklat kelabu sampai tua di dalam dan di luar jaringan tanaman sakit, dan juda di dalam biakan murni. Konidiofor berwarna coklat muda sampai coklat kehijauan, makinh keujung warna makin muda, mempunyai panjang dan lebar yang bervariasi, tergantung lingkungannya. Konidiofor mempunyai bengkokan seperti lutut yang khas, yang merupakan titik melakatnya konidium. Konidium yang paling bawah adalah paling tua. Konidium berwarna coklat, berbentuk kumparan, kebanyakan agak bengkok, berdinding tebal, bersekat palsu 5-10, dengan ukuran yang bervariasi, tergantung faktor lingkungan dan ras fisiolis jamur, dengan rata-rata 104x15.5 μm. Konidium mempunyai hilum yang khas, kecil, sering sedikit menonjol, berpapil, berkecambah dari kedua sel ujungnya yang mempunyai dinding sel palin tipis dibandingkan dengan sel-sel yang lebih ke tengah ( Holliday, 1980; Singh, 1969; Semangun, 2004).
Pada biakan murni jamur membentuk peritesium bulat, hitam, dengan ostiol yang berbentuk paruh. Badan peritesium berukuran 463-763 x 368-777 μm, sedang ukuran paruh 95-190 x 55-95 μm. Askus berbentuk tabung atau panjang, berbentuk kumparan, sedikit melengkung, 142-235 x 21-36 μm, kebanyakan berisi 4-6 askospora. Askospora seperti benang, bersekat 9-12, 250-469 x 6-9 μm, dan membentuk regum (spiral) yang rapat didalam askus (Semangun, 2004).
Daur Penyakit :
D. oryzae dapat mempertahankan diri sebagai miselium atau konidium dalam biji-biji. Jamur juga terdapat didalam biji-biji yang tampak sehat. Di dalam biji jaumur paling sedikit dapar bertahan selama 4 tahun. Segaja penyakit yang pertama tampak sebagi bercak-bercak atau garis-garis coklat kekuningan pucat pada koleoptil kecambah. D. oryzae juga dapat bertahan dalam jerami yang disimpan di kampung-kampung, tetapi mungkin dari sini jamur sukar untuk mengadakan infeksi pada tanaman padi di sawah atau tegalan (Semangun, 2004).
Konidium jamur dapat terpencarkan oleh angin, tetapi mungkin jarak yang di tempuhnya tidak jauh. Bahkan konidium dapat tertangkap gelas benda lebih kurang 6 meter dari pertanaman yang sakit. Pada gelas benda yang diletakkan 0,75 m, di atas pertanaman sakit hanya dapat tertangkap sedikit konidium ( Hadisutrisno dan Triharso, 1972 cit Semangun, 2004).
Konidium tumbuh dengan membentuk buluh kecambah dari ujung-ujung sel basal dan apikal yang dindingnya paling tipis. Kadang-kadang pembuluh juga tumbuh dari samping konidium. Dalam waktu beberapa jam ujung pembuluh kecambah membengkak, terbentuklah apresorium yang berlekak-lekak atau bercabang-cabang, dan jamur mengadakan penetrasi dengan menembus dinding epidermis, atau sel-sel kipas. Kalau infeksi terjadi melalui mulut kulit, apresorium tidak terbentuk. Pda umumnya infeksi terjadi sekitar 4 jam setelah perkecambahan konidium. Gejala penyakit yang pertama terlihat sekitar 24 jam setelah infeksi. Jamur juga dapat bertahan cukup lama didalam tanah. Suhu optimun untuk perkecambahan konidium adalah 25-30ºC. suhu mainimum dan maksimum masing-masing adalah 2 dan 41ºC. pembentukan konidium terjadi pdaa suhu 5 samapi 35-38ºC( Semangun, 2004).
Gejala Serangan :
Parasit yang terbawa oleh biji dapat menyerang biji-biji yang akan dan yang sedang tumbuh. Semai yang terserang busuk pada koleoptil, batangn, dan akar-akarnya, dan dapat menyebabkan matinya semai ini. Pada daun tanaman yuang sudah besar terjaid bercak-bercak coklat memanjang. Bercak-bercak kecil berwarna coklat tua atau coklat ungu. Bercak yang besar tepinya berwarna coklat tua, tetapi pada bagian tengahnya dapat berwarna kuning pucat, putih kotor, coklat atau kelabu. Kadang-kadang bercak mempunyai halo kekuningan. Daun yang sakit keras dapat menjadi kering. Jika keadaan membantu, batang, dan tangkai bulir dapat terjangkit. Infeksi ini dapat menyebabkan patahnya bagian-bagian tadi dan menjadi keriputnya biji-biji ( Semangun, 2004).
Tanaman yang sakit keras mungkin tidak dapat membentuk malai, atau malai tidak keluar dari upih daun. Serangan yang ringan pada biji-biji dapat menyebabbkan terjadinya bercak-bercak berwarna coklat kecil-kecil. Pada keadaan ini biji tetap berisi dan dapat berkecambah. Biji yang terserang berat berwarna coklat seluruhnya. Dalam keadaan yang sesuia, biji yang sakit diliputi oleh beludu hitam, yang terdiri dari konidiofor dan konidium jamur. Pada umumnya jamur hanya menyerang sebagian dari biji-biji pada malai ( Semangun, 2004).
Teknik Pengendalian Non Kimiawi ( Semangun, 2004):
v Meningkatkan cara bertanamna deangan tanam serentak, air ang cukup, pupuk yang seimbang, dan penanaman yang tepat.
v Sanitasi dan pergiliran tanaman.
v Perawatan biji
v Penanaman varietas tahan.
Pengendalian kimiawi
v Pertisida ( Semangun, 2004):
| Nama dagang | Bahan Aktif |
| Hinosan 50 EC | Edifenfos |
| Dithane M-45 | Mankozeb |
| Antracol 70 WP | Propineb |
| Delsene MX 200 | Karbendazim dan mankozeb |
| Daconil 75 WP | Klototalonil |
Daftar Pustaka
Semangun, Haryono. 2004. Penyakit-Penyakit Tanaman Pangan Indonesia. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta
siip lah,, akhirnya ketemu juga dengan penyakit ini... tanpa harus buka buku semangun.
BalasHapusterimakasih...