PARADISA

WELCOME TO PARADISA NETWORK

Kami merupakan Media Saring berbagai ilmu yang tentunya bermanfaat bagi kita semua


Laman

Rabu, 15 Mei 2013

Ketika di Vonis Endometriosis

Saya menulis ini bukan untuk mencari perhatian atau rasa belas kasihan, akan tetapi agar kita sebagai wanita lebih perhatian dengan kesehatannya diri sendiri. Selama ini saya terlalu cuek dengan urusan kesehatan. Akhirnya saya mengalaminya sendiri nggak enaknya.
Awal tahun kemarin, awalnya saya ke dokter kandungan karena saya sudah telat haid kurang lebih 2-3minggu. Saya penasaran, saya sering telat haid tapi kok masih belum hamil. Oleh dokter kandungan pertama, saya di USG. Sayangnya saya belum hamil. Pada saat konsultasi dengan dokter, saya juga mengeluhkan sakit yang sering saya alami di bagian rahim. Dokter kandungan memvonis saya terkena infeksi saluran pada rahim bagian kiri. Saya pun diberi antibiotik dan penghilang rasa nyeri. Saya juga diminta kembali lagi jika saya ternyata haid/tidak hamil.
 Akhirnya satu minggu kemudian, saya kembali lagi kerumah sakit. Saya pun mengeluhkan obat penghilang rasa sakitnya tidak mengurangi rasa sakit pada bagian perut pada saat saya haid. Dokternya pun melakukan USG Transvaginal. Saya tak tahu bagaimana cara membaca hasil USGnya. Tapi menurut dokternya, untuk sel telur sudah ada didalam rahim. Rasa sakit yang timbul itu mungkin disebabkan adanya Endometriosis. What's???Apa itu? Jujur, saya kaget, karena baru pertama kali saya mendengar kata itu. Jujur saya rada awam mendengar istilah-istilah kedokteran (terbiasa mendengear istilah penyakit tumbuhan sih,,,hehehehe)
 Kata bu dokter, endometriosis itu adalah lapisan endometrium yang seharusnya tumbuh di dalam rahim, tapi malah tumbuh di luar rahim sehingga darah haidnya tidak keluar dan menimbulkan rasa sakit. Untuk lebih jelasnya, ibu dokter meminta saya untuk searching di internet. Menurutnya, susahnya saya hamil mungkin disebabkan penyakit ini karena adanya penempelan saluran telur sehingga sperma tidak bisa bertemu dengan sel telur. Tapi dia tidak bisa memastikan karena untuk memastikan penyakit ini hanyalah dengan Laparoskopi dengan biaya sekitar 20jt. Selain untuk memastikan endometriosis, Laparoskopi juga sekaligus operasi untuk menghilangkan lapisan endometrium yang ada diluar rahim.
Saya pun menanyakan, apakah ada cara lain dok untuk memastikannya? Dokternya pun menjawab, saya punya beberapa pasien seperti ibu gejalanya. Rata-rata dari mereka sudah sembuh dan hamil dengan pengobatan terapi hormon dengan obat dan suntik selama 3-6 bulan. Untuk pengobatan dengan obat biayanya sekitar 1jt/bulan sedangkan untuk suntik 1,5jt/bulan. Dengan terapi hormon, saya tidak akan haid atau haid akan berhenti selama 3-6 bulan sesuai waktu terapi yang diperlukan. Untuk memulai terapi hormon, harus dilakukan pada saat menstruasi. Jujur saya bingung pada waktu itu. Saya cuma bisa bilang, iya bu, nanti saya diskusikan dengan suami dan keluarga dulu
Begitu saya ceritakan ke suami, suami kaget dan khawatir. Dia sedih karena tidak bisa menemani saya disaat yang seperti ini karena dia sedang kerja di luar kota. Saat berdiskusi dengan mertua, dia menyarankan untuk konsultasi ke dokter kandungan yang lain dulu dan beliau menyarankan ke dokter kandungan langganan beliau yang merupakan dokter kandungan yang seorang wanita yang pertama di Jogja.
Setelah, konsultasi ke dokter kandungan tersebut (kita sebut dokter kandungan  kedua aja ya biar mudah membedakan dengan dokter kandungan yang pertama), dia bilang dia ragu kalau saya menderita endometriosis karena saya masih bisa beraktifitas seperti biasa. Orang yang menderita endometriosis itu biasanya tidak bisa menahan sakit bahkan karena sakitnya, penderita sampai tidak bisa beraktifitas karena sakitnya. Jadi dokter kedua memfokuskan pengobatan agar saya bisa cepat hamil karena menurutnya dengan kehamilan maka endometriosis otomatis akan hilang.
Saya tambah bingung, karena pendapat dokter pertama dan kedua bertolak-belakang. Dokter kedua pun memberikan saya obat norelut yang harus diminum hari ke 16 dari haid pertama selama 10 hari, sehari diminum 2kali. Akhirnya pun saya mengikuti saran dokter kedua dengan rutin meminum obatnya. Jujur, saya masih ragu dan khawatir. Akhirnya saya konsultasikan masalah ini ke salah satu sahabat saya. Dia seorang dokter umum bukan dokter kandungan tapi entah mengapa kalau dikonsultasikan dengan orang yang kita kenal dekat, pasti rasanya akan lebih tenang. Saya ceritakan semuanya ke sahabat saya itu. Sahabat saya menenangkan saya dengan bilang saya masih bisa hamil kok setelah perawatan. Jadi ikut aja terapi yang diberikan dokter dulu. Setelah konsultasi dengan sahabat saya, perasaan saya pun jadi tenang.
Saya mengikuti terapi norelut selama 3 bulan, memang nyeri saat menstruasi saya berkurang dan siklusnya kembali menjadi lebih normal. Akan tetapi, menstruasi  hanya belangsung 3 hari. Khawatir sih, tapi kata dokter kandungan kedua nggak masalah, yang penting darahnya keluar.

 


Finally, setelah 3 bulan terapi norelut saya diberhentikan. Mulai bulan ini saya disarankan untuk meminum supleman tambahan agar saya bisa hamil. Saya diberi resep Folavit dan Santa-e. Katanya sih fungsinya untuk menyuburkan. Semoga berhasil ya. Semoga Allah segera memberikan saya anugrah untuk menjadi seorang Ibu ya dengan menitipkan kepada saya anak-anak yang soleh dan solehah. Amin....
Untuk para wanita yang menghadapi masalah yang sama seperti yang aku alami, jangan pernah patah semangat ya. Saat mengalami hal seperti ini dukungan keluarga dan sahabat akan sangat membantu. Selain itu, jangan lupa memperbanyak ibadahnya karena akan membantu menenangkan pikiran kita. Kalau saya menerima semuanya jujur awalnya berat. Tapi saya  berusaha untuk positif thinking. Sakit merupakan penggugur dosa, mungkin sakit ini diberikan Allah SWT kepada saya karena Dia sayang sama saya. Jadi selama pengobatan, saya berusaha menyerahkan semuanya kepada Allah SWT karena Allah SWT tahu apa yang terbaik bagi saya
Bagi sahabat yang mau mengetahui mengenai endometriosis bisa lihat baca di link ini
http://www.lusa.web.id/endometriosis/
http://www.totalkesehatananda.com/endometriosis1.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar