Saya menulis ini bukan untuk mencari perhatian atau rasa
belas kasihan, akan tetapi agar kita sebagai wanita lebih perhatian dengan
kesehatannya diri sendiri. Selama ini saya terlalu cuek dengan urusan
kesehatan. Akhirnya saya mengalaminya sendiri nggak enaknya.
Awal tahun kemarin, awalnya saya ke dokter kandungan karena
saya sudah telat haid kurang lebih 2-3minggu. Saya penasaran, saya sering telat
haid tapi kok masih belum hamil. Oleh dokter kandungan pertama, saya di USG.
Sayangnya saya belum hamil. Pada saat konsultasi dengan dokter, saya juga
mengeluhkan sakit yang sering saya alami di bagian rahim. Dokter kandungan
memvonis saya terkena infeksi saluran pada rahim bagian kiri. Saya pun diberi
antibiotik dan penghilang rasa nyeri. Saya juga diminta kembali lagi jika saya
ternyata haid/tidak hamil.
Akhirnya satu minggu kemudian, saya kembali lagi
kerumah sakit. Saya pun mengeluhkan obat penghilang rasa sakitnya tidak
mengurangi rasa sakit pada bagian perut pada saat saya haid. Dokternya pun
melakukan USG Transvaginal. Saya tak tahu bagaimana cara membaca hasil USGnya.
Tapi menurut dokternya, untuk sel telur sudah ada didalam rahim. Rasa sakit
yang timbul itu mungkin disebabkan adanya Endometriosis. What's???Apa itu?
Jujur, saya kaget, karena baru pertama kali saya mendengar kata itu. Jujur saya
rada awam mendengar istilah-istilah kedokteran (terbiasa mendengear istilah
penyakit tumbuhan sih,,,hehehehe)
Kata bu dokter, endometriosis itu adalah lapisan
endometrium yang seharusnya tumbuh di dalam rahim, tapi malah tumbuh di luar
rahim sehingga darah haidnya tidak keluar dan menimbulkan rasa sakit. Untuk
lebih jelasnya, ibu dokter meminta saya untuk searching di internet.
Menurutnya, susahnya saya hamil mungkin disebabkan penyakit ini karena adanya
penempelan saluran telur sehingga sperma tidak bisa bertemu dengan sel telur.
Tapi dia tidak bisa memastikan karena untuk memastikan penyakit ini hanyalah
dengan Laparoskopi dengan biaya sekitar 20jt. Selain untuk memastikan
endometriosis, Laparoskopi juga sekaligus operasi untuk menghilangkan lapisan
endometrium yang ada diluar rahim.
Saya pun menanyakan, apakah ada cara lain dok untuk
memastikannya? Dokternya pun menjawab, saya punya beberapa pasien seperti ibu
gejalanya. Rata-rata dari mereka sudah sembuh dan hamil dengan pengobatan
terapi hormon dengan obat dan suntik selama 3-6 bulan. Untuk pengobatan dengan
obat biayanya sekitar 1jt/bulan sedangkan untuk suntik 1,5jt/bulan. Dengan
terapi hormon, saya tidak akan haid atau haid akan berhenti selama 3-6 bulan
sesuai waktu terapi yang diperlukan. Untuk memulai terapi hormon, harus
dilakukan pada saat menstruasi. Jujur saya bingung pada waktu itu. Saya cuma
bisa bilang, iya bu, nanti saya diskusikan dengan suami dan keluarga dulu
Begitu saya ceritakan ke suami, suami kaget dan khawatir. Dia
sedih karena tidak bisa menemani saya disaat yang seperti ini karena dia sedang
kerja di luar kota. Saat berdiskusi dengan mertua, dia menyarankan untuk
konsultasi ke dokter kandungan yang lain dulu dan beliau menyarankan ke dokter
kandungan langganan beliau yang merupakan dokter kandungan yang seorang wanita
yang pertama di Jogja.
Setelah, konsultasi ke dokter kandungan tersebut (kita sebut
dokter kandungan kedua aja ya biar mudah membedakan dengan dokter
kandungan yang pertama), dia bilang dia ragu kalau saya menderita endometriosis
karena saya masih bisa beraktifitas seperti biasa. Orang yang menderita
endometriosis itu biasanya tidak bisa menahan sakit bahkan karena sakitnya,
penderita sampai tidak bisa beraktifitas karena sakitnya. Jadi dokter kedua memfokuskan
pengobatan agar saya bisa cepat hamil karena menurutnya dengan kehamilan maka
endometriosis otomatis akan hilang.
Saya tambah bingung, karena pendapat dokter pertama dan kedua
bertolak-belakang. Dokter kedua pun memberikan saya obat norelut yang harus
diminum hari ke 16 dari haid pertama selama 10 hari, sehari diminum 2kali.
Akhirnya pun saya mengikuti saran dokter kedua dengan rutin meminum obatnya.
Jujur, saya masih ragu dan khawatir. Akhirnya saya konsultasikan masalah ini ke
salah satu sahabat saya. Dia seorang dokter umum bukan dokter kandungan tapi
entah mengapa kalau dikonsultasikan dengan orang yang kita kenal dekat, pasti
rasanya akan lebih tenang. Saya ceritakan semuanya ke sahabat saya itu. Sahabat
saya menenangkan saya dengan bilang saya masih bisa hamil kok setelah
perawatan. Jadi ikut aja terapi yang diberikan dokter dulu. Setelah konsultasi
dengan sahabat saya, perasaan saya pun jadi tenang.
Saya mengikuti terapi norelut selama 3 bulan, memang nyeri
saat menstruasi saya berkurang dan siklusnya kembali menjadi lebih normal. Akan
tetapi, menstruasi hanya belangsung 3 hari. Khawatir sih, tapi kata
dokter kandungan kedua nggak masalah, yang penting darahnya keluar.
Finally, setelah 3 bulan terapi norelut saya diberhentikan.
Mulai bulan ini saya disarankan untuk meminum supleman tambahan agar saya bisa
hamil. Saya diberi resep Folavit dan Santa-e. Katanya sih fungsinya untuk
menyuburkan. Semoga berhasil ya. Semoga Allah segera memberikan saya anugrah
untuk menjadi seorang Ibu ya dengan menitipkan kepada saya anak-anak yang soleh
dan solehah. Amin....
Untuk para wanita yang menghadapi masalah yang sama seperti
yang aku alami, jangan pernah patah semangat ya. Saat mengalami hal seperti ini
dukungan keluarga dan sahabat akan sangat membantu. Selain itu, jangan lupa
memperbanyak ibadahnya karena akan membantu menenangkan pikiran kita. Kalau
saya menerima semuanya jujur awalnya berat. Tapi saya berusaha untuk
positif thinking. Sakit merupakan penggugur dosa, mungkin sakit ini diberikan
Allah SWT kepada saya karena Dia sayang sama saya. Jadi selama pengobatan, saya
berusaha menyerahkan semuanya kepada Allah SWT karena Allah SWT tahu apa yang
terbaik bagi saya
Bagi sahabat yang mau mengetahui mengenai endometriosis bisa
lihat baca di link ini
http://www.lusa.web.id/endometriosis/http://www.totalkesehatananda.com/endometriosis1.html

Tidak ada komentar:
Posting Komentar